top of page

to be meant?

  • 8 Jan 2022
  • 2 menit membaca


Akhir-akhir ini aku sering berdiskusi mengenai pembahasan ‘ambil peran’ dengan salah seorang teman. Kita sama-sama memiliki kesadaran untuk mengambil peran di masyarakat dan berperan optimal sebagai delegasi Allah di lingkungan kami. Namun, masih banyak kebingungan mengenai arah dakwah seperti apa yang harus kami jejaki. Ketika sudah mulai melangkah, keistiqomahan dan semangat untuk berperan itu seringkali goyah dan banyak kelalaian di dalam nya. Takut, jujur saja. Mungkin kami sudah sama-sama memulai, tapi kadang terasa hilang arah. Sampai pada titik dia mengatakan, “seharusnya kita doa aja ga sih, supaya Allah senantiasa menjernihkan pikiran kita?” Dan aku sadar jika aku lupa untuk berpasrah.


Aku berpikir lagi, sebenernya manusia itu memiliki banyak peran. Dan pengoptimalan dari peran itu adalah bentuk amal dari rasa syukur kepada Allah. Sederhananya, sekarang aku berperan sebagai seorang anak. Sehingga pengoptimalan peran nya adalah dengan berbakti kepada kedua orang tua, menjaga amanah mereka untuk berbuat baik, dan menghindari perbuatan-perbuatan maksiat. Kemudian sebagai seorang murid. Pengoptimalan peran nya adalah dengan fokus belajar, menjaga adab terhadap guru, dan mengamalkan ilmu nya. Dalam kehidupan, peran itu terus berubah seiring proses perjalanan hidup kita. Ada saat menjadi anak, pelajar, sampai nanti berperan sebagai suami/istri, dan orang tua. Kesadaran akan peran itu juga sangat penting, karena dengan sadar kita jadi memiliki tanggung jawab untuk bertindak. Rasulullah juga pernah bersabda, jika salah satu bentuk dari amalan terbaik itu adalah dengan mengoptimalkan setiap peran yang kita jalani saat ini.


Selain mengambil peran, sekarang aku juga sedang belajar mengenai cara untuk memaknai. Setiap hal yang terjadi. Setiap orang yang ditemui, baik bersikap baik ataupun buruk adalah pelajaran yang harus di maknai. Karena menurutku sesuatu itu akan sangat menarik jika mengerti maknanya. And I thought proses dari memaknai itulah yang membuat aku terus semangat belajar dan mencari banyak referensi. Nah, referensi itu sangat mempengaruhi cara berpikir dan tindakan kita dalam suatu keadaan. Referensi itu juga bersumber dari apa yang kita lihat, baca, dan dengar. Referensi akan sangat berpengaruh dalam standar penilaian terhadap baik dan buruk. Misal, jika kita sering membaca, mendengar, melihat, dan berada dilingkungan yang menganggap jika berpacaran itu adalah hal yang normal dan baik. Maka, itu akan menjadi referensi kita dalam berpikir dan menilai jika itu adalah hal yang baik. Padahal sudah jelas jika Allah melarang kita untuk berbuat zina, dan berpacaran adalah salah satu bentuk dari zina itu sendiri. Intinya menormalisasi keadaan. Namun, jika kita terbiasa berada di lingkungan yang menganggap jika berpacaran itu adalah sesuatu yang dilarang, maka itu akan menjadi standar referensi kita dalam menilai jika hal tersebut buruk dan tidak seharusnya dilakukan.


Yang ingin aku sampaikan adalah, lingkungan itu memiliki pengaruh yang besar dalam proses berpikir dan tindakan-tindakan yang kita ambil. Sebuah lingkungan yang menjadikan nilai-nilai religious sebagai acuan, akan menimbulkan norma sosial yang menjadi pedoman dalam aturan dan tingkah laku yang di ambil oleh individu. Ketika kemaksiatan dinilai sebagai hal yang buruk. Dan hal-hal yang di anggap sebagai maksiat itu jelas acuannya. Maka, jelas pula hukum dan aturan nya. Sehingga ada perasaan takut dan was-was ketika seseorang ingin melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai dan melanggar norma.


Komentar


Drop Me a Line, Let Me Know What You Think

Thanks for submitting!

© 2023 by Train of Thoughts. Proudly created with Wix.com

bottom of page