top of page

Berbicara tentang zona nyaman..

  • 22 Feb 2022
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 24 Feb 2022



Sabtu pagi dengan suhu -14 derajat selsius. Daripada meringkuk di bawah selimut, kali ini aku memutuskan untuk sedikit lebih produktif dengan menulis sesuatu di blog ini. Cerita Bulan Januari. Hmm, di bulan ini aku banyak belajar mengenai makna dari zona nyaman. Klise, tapi meaningful. Zona nyaman dapat berarti suatu keadaan atau kondisi yang membuat kita merasa nyaman dan aman, jarang merasa takut ataupun gelisah karena dalam kondisi tersebut kita merasa mampu mengontrol lingkungan kita. Seringkali kita mendengar ataupun membaca sesuatu yang berkaitan dengan ā€˜keluar dari zona nyaman’. Pertanyaan ku setiap kali mendengar hal tersebut adalah ā€œkenapa harus keluar dari zona nyaman, bukankah rasa nyaman itu sesuatu yang positif?ā€


Well, kali ini aku mau sedikit cerita tentang kuliah ku di Turki. Tahun pertama sebelum memasuki universitas-kami pelajar Indonesia-harus mengikuti kelas perisapan Bahasa Turki. Awalnya ngga ada masalah dengan kelas bahasa ku. Aku merasa nyaman dan aman karena hampir semua teman sekelas ku adalah orang Indonesia dengan rata-rata pengetahuan Bahasa Turki yang sama. Kami juga lebih banyak berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia, hanya berteman dengan sesama mahasiswa Indonesia, bahkan ketika dikelas kami lebih memilih untuk menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan guru ataupun teman-teman dari negara lain.


Namun setelah bulan ke tiga, kenaikan level ke B1 semua kelas di acak. Aku dapat kelas baru dengan empat orang teman dari Indonesia dan sisa nya sama sekali nggak aku kenal. It's hard to be adapted again for me after a very comfort place I had before. Kelas baru dengan teman-teman yang fasih berbicara Bahasa Turki. Minder dan takut. Dikelas aku lebih banyak diam, rasanya benar-benar ngga nyaman. Terlalu asing. Terlebih lagi aku merasa kemampuan berbicara Bahasa Turki ku sangat payah. Sangat melelahkan sampai aku harus mengambil jeda dan istirahat.


Aku berpikir kembali. This shifting could be a great movement for me, this is a chance. Aku mengakui kalau aku takut. Tapi setelah itu aku mencari cara untuk mengatasi nya. I deal with it. Aku merubah pola pikir yang aku punya. Karena rasa takut itu aku harus mempersiapkan diri sebelum masuk ke kelas. Belajar setiap malam, mempersiapkan materi yang akan di bahas esok harinya. Menulis setiap vocabs baru yang aku dengar dan baca. Setiap harinya aku jadikan tantangan. Seberapa berani aku hari itu untuk berbicara di kelas, menyapa teman baru, menjadi lebih percaya diri. Dan di momen itu juga aku benar-benar menyadari jika percaya diri itu bukan hanya tentang seberapa berani dan percaya diri aku, tapi tentang kepercayaan ku kepada Allah jika Dia pasti akan memberikan pertolongan-Nya. That's a confident meant for me.


This is feels too kiddy for me before. Like, I shouldn’t feel this way anymore in my age. Tapi, perasaan takut untuk keluar dari zona nyaman itu ternyata benar-benar nyata dan sangat tidak nyaman. Melelahkan. Namun ketika kita bisa menemukan jalan keluar dari rasa takut itu, hasil nya benar-benar riil. Menemukan cara berjuang yang baru. Melihat dunia yang lebih luas. Mampu melawan ketakutan sendiri.


Keluar dari zona nyaman itu sangat di perlukan, entah karena dipaksa keadaan atau dari kesadaran. Karena terkadang kita terlalu dibuai dengan kenyamanan sampai lupa caranya berjuang. Memang berat untuk meninggalkan kenyamanan dan berjuang di kondisi yang asing. But I thought, kesadaran kalau kita butuh untuk berjuang itu harus dimunculkan. Karena aku yakin banyak hal dan mimpi-mimpi yang harus di wujudkan.

Komentar


Drop Me a Line, Let Me Know What You Think

Thanks for submitting!

© 2023 by Train of Thoughts. Proudly created with Wix.com

bottom of page